ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Siapkan Enam Rekomendasi Strategis untuk Muktamar VIII

Sebarkan:

Evaluasi Pengurus Harian ICMI Orwil Kalbar yang digelar di Pontianak, Sabtu (8/8/2026). SUARANUSANTARA/SK
Pontianak, Kalbar (Suara Nusantara) – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Kalimantan Barat mengevaluasi kinerja tahun pertama kepengurusan sekaligus memperkuat arah program dan rekomendasi kebijakan untuk pembangunan daerah.

Evaluasi tersebut dibahas dalam Rapat Pengurus Harian ICMI Orwil Kalbar yang berlangsung di Pontianak, Sabtu (8/8/2026).

Rapat tersebut membahas tiga agenda utama, yakni evaluasi kinerja dan program unggulan ICMI Kalbar, persiapan SILAKDA/SILAKWIL dan Simposium Daerah, serta penyusunan rekomendasi strategis Kalimantan Barat yang akan dibawa dalam Muktamar VIII ICMI di Ambon, Maluku, pada 4–6 Desember 2026.

Ketua ICMI Orwil Kalbar, Gusti Hardiansyah, menegaskan bahwa evaluasi organisasi tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah manfaat program bagi masyarakat, tingkat penyelesaiannya, serta kejelasan tindak lanjut setelah program dijalankan.

“Apa yang sudah kita kerjakan, apa yang belum selesai, mengapa belum selesai, dan setelah rapat ini siapa melakukan apa,” ujar Gusti Hardiansyah, menggambarkan kerangka evaluasi yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut.

Salah satu program strategis yang mendapat perhatian dalam rapat adalah pengembangan Desa Cendekia berbasis Pertambangan Rakyat di Desa Entibab, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu.

Program tersebut dirancang untuk memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan penguatan iman dan takwa (IMTAQ) dalam kehidupan masyarakat.

Konsep Desa Cendekia diarahkan pada pengembangan pertambangan rakyat yang lebih bertanggung jawab, antara lain melalui pengolahan emas tanpa merkuri, penerapan praktik pertambangan yang baik, reklamasi lahan dengan memanfaatkan tanaman lokal, pendidikan keselamatan kerja, hingga penguatan aktivitas keagamaan masyarakat.

Berdasarkan dokumen perkembangan program, Desa Entibab memiliki 1.048 penduduk atau 313 keluarga. Wilayah tersebut juga berada di kawasan yang memiliki 50 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Dalam rapat, pengembangan Desa Cendekia didorong agar tidak hanya berfokus pada sektor pertambangan rakyat. Program tersebut diusulkan menjadi model pembangunan desa yang lebih terintegrasi dengan mencakup penyediaan air bersih, energi terbarukan, kesehatan, sanitasi, pendidikan, kebudayaan, ekonomi masyarakat hingga pengelolaan lingkungan.

Dalam kerangka tersebut, ICMI Kalbar dinilai dapat memainkan peran sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan berbagai pihak yang memiliki sumber daya untuk membangun kolaborasi.

“ICMI tidak harus bekerja sendiri. Yang penting bagaimana ilmu pengetahuan, kebijakan dan potensi berbagai pihak dapat dipertemukan untuk menghasilkan solusi bagi masyarakat,” menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam pembahasan.

Selain mengevaluasi program unggulan, rapat juga membahas persiapan SILAKDA/SILAKWIL dan Simposium Daerah.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memproduksi gagasan dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan Kalimantan Barat.

Berbagai isu strategis menjadi bahan pembahasan, mulai dari energi terbarukan, pengembangan industri dan pariwisata halal, pemberdayaan UMKM, pembangunan kawasan perbatasan, pertambangan rakyat, ekonomi karbon, perlindungan lingkungan, hingga penguatan karakter dan generasi muda.

Pembahasan tersebut sekaligus memperlihatkan upaya ICMI Kalbar memperluas kontribusi organisasi. Peran ICMI tidak hanya diarahkan pada kegiatan internal, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan intelektual yang dapat memberikan masukan terhadap arah pembangunan daerah.

Menjelang Muktamar VIII ICMI di Ambon, ICMI Kalbar juga menyiapkan enam kelompok rekomendasi strategis yang dinilai penting untuk dibawa menjadi bagian dari agenda nasional organisasi.

Enam rekomendasi tersebut meliputi ketahanan pangan berbasis potensi lokal; transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan; rekonsiliasi sosial dan penguatan etika publik; pemberdayaan ekonomi umat berbasis nilai-nilai Islam; penguatan ICMI sebagai think-tank kebijakan; serta pembangunan kawasan perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia.

Rekomendasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai rumusan dalam forum organisasi. ICMI Kalbar mendorong agar setiap gagasan dapat dikembangkan menjadi konsep yang aplikatif dan memiliki relevansi langsung terhadap persoalan pembangunan masyarakat.

Rapat Pengurus Harian ICMI Kalbar sekaligus menjadi momentum untuk mempertegas arah kecendekiawanan organisasi. Ilmu pengetahuan diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan, kolaborasi, inovasi, dan solusi nyata bagi masyarakat.

Dari evaluasi menuju aksi, ICMI Kalbar berupaya menempatkan kecendekiawanan bukan sekadar sebagai sumber gagasan, melainkan sebagai kekuatan intelektual yang mampu mendorong kemaslahatan bagi daerah, umat, dan bangsa.[SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini