“Sekali Lihat Air Sudah Besar”: Jerit Warga Kampung Yuka Bertahan di Tengah Ancaman Banjir Rob Sungai Kapuas

Sebarkan:

 

Banjir di Kampung Yuka, Sungai Beliung, Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalbar, pada Senin (08/12/2025).SUARANUSANTARA/SK
Pontianak, Kalbar (Suara Nusantara) – Siti Sahara (46) masih mengingat betul siang ketika air yang semula hanya menggenang di teras rumahnya perlahan berubah menjadi ancaman. Ia berdiri di depan pintu, menahan sampah yang terbawa arus agar tidak masuk ke dalam rumah, saat angin tiba-tiba datang lebih kencang dari sebelumnya.

“Sekali lihat, (air) sudah besar. Saya langsung kabur ke tetangga, rasanya takut,” ujarnya, Sabtu (24/01/2026), mengenang momen ketika ia berlari ke rumah ibunya di sebelah saat air pasang mendadak naik pada awal Desember 2025 lalu.

Siti tinggal di Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Kawasan padat penduduk yang berada di bantaran Sungai Kapuas itu menjadi salah satu wilayah paling rentan terdampak banjir rob, terutama ketika pasang tinggi terjadi bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang.

Rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari tepian sungai. Ia menyebut banjir Desember lalu sebagai yang tertinggi selama ia tinggal di sana, bahkan melampaui banjir lima tahun sebelumnya yang bercampur lumpur tebal.

“Air, angin, hujan, datang bersamaan. Sampah-sampah juga nyerang,” katanya.

Tempat tidur yang sudah ditinggikan hanya menyisakan jarak sejengkal dari permukaan air. Kulkasnya terbalik, perabot bergeser, sementara dua anaknya yang masih SMP dan SMA saat itu berada di sekolah. Suaminya bekerja di luar kota. Dalam situasi itu, ia hanya sempat menyelamatkan diri dan beberapa barang berharga.

Banjir di kampungnya bukan hanya soal air yang naik, tetapi juga soal siklus yang berulang. Dalam sehari, pasang bisa terjadi dua hingga tiga kali. Air yang sempat surut mendadak naik kembali, membuat warga tak pernah benar-benar merasa aman.

“Kalau air pasang sudah naik kedua kali, biasanya lebih tinggi lagi. Kadang tiga kali, empat kali dalam sehari,” tuturnya.

Kelelahan menjadi perasaan yang paling sering muncul. “Sudah letih bersih-bersih rumah. Baru selesai, mau istirahat, naik lagi airnya,” katanya pelan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kota Pontianak Dalam Angka 2025 mencatat Kecamatan Pontianak Barat dihuni 151.732 jiwa dengan kepadatan mencapai 9.262 jiwa per kilometer persegi. Permukiman yang berhimpitan di bantaran sungai membuat ruang resapan air semakin terbatas, sehingga setiap kenaikan muka air cepat merambat dari teras ke ruang tengah rumah warga.

Selain air, sampah menjadi persoalan serius. Saat pasang tinggi, kiriman sampah dari hulu tersangkut di kolong rumah warga. Sebagian lagi berasal dari pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal.

Octavia Shinta Aryani, Ketua Penggerak Kawasan Gaharu Kampung Yuka yang diinisiasi bersama Ashoka Indonesia, menyebut persoalan lingkungan di kampung tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua hal: banjir dan sampah.

“Warga sering bilang sampah itu bukan dari mereka. Saat banjir, sampah datang dari sungai dan nyangkut di bawah rumah. Tapi ketika ditanya tempat pembuangan sampahnya di mana, ternyata banyak yang hanya menaruh di halaman karena memang tidak ada sarana memadai,” ujarnya.

Menurutnya, banjir rob yang berulang membuat sebagian warga menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “biasa”. Padahal, dampaknya semakin terasa seiring perubahan cuaca dan kenaikan muka air.

Kepala Bappeda Kota Pontianak, Sidig Handanu Widoyono, menyebut hingga kini belum ada solusi struktural permanen untuk mengatasi banjir rob di kawasan bantaran Sungai Kapuas, termasuk Kampung Yuka.

“Untuk mengurangi risiko banjir rob, saat ini memang belum ada. Kita belum punya tanggul di pinggir sungai. Yang bisa dilakukan adalah memberikan peringatan dini sebelum air pasang tinggi,” ujarnya.

Upaya pemerintah lebih banyak difokuskan pada banjir akibat hujan, seperti perbaikan drainase dan parit. Untuk banjir rob, langkah yang tersedia masih sebatas antisipasi dan penanganan saat kejadian.

Sejumlah peneliti dalam program FINCAPES (Financing Climate-Resilient Infrastructure for Coastal Ecosystems and Societies) menilai banjir rob di Pontianak bukan tanpa solusi. Kajian yang melibatkan University of Waterloo dan Universitas Syiah Kuala itu memodelkan dampak perubahan iklim menggunakan berbagai skenario emisi.

Mawardi Muhammad, Program Officer FINCAPES, menyebut beberapa lokasi di Pontianak berpotensi mengalami kenaikan muka air signifikan dalam beberapa dekade ke depan.

“Tidak semua Pontianak akan terdampak parah, tapi ada lokasi-lokasi tertentu yang risikonya jauh lebih tinggi. Itu yang harus menjadi fokus perencanaan,” ujarnya.

Brent Doberstein, Associate Professor Geography and Environmental Management University of Waterloo, mengatakan Pontianak masih memiliki waktu sekitar 30 tahun untuk melakukan adaptasi.

“Pilihan selalu ada. Bisa membangun perlindungan infrastruktur, meninggikan bangunan, atau secara bertahap memindahkan permukiman dari zona rawan banjir,” jelasnya.

Stefan Steiner, Professor Statistics and Actuarial Science University of Waterloo, menambahkan bahwa sistem drainase harus dirancang terintegrasi mengingat topografi Pontianak yang relatif datar.

Beberapa waktu setelah banjir 8–9 Desember 2025 surut, Wali Kota Pontianak dan Gubernur Kalbar sempat meninjau kawasan tersebut dan membagikan bantuan sembako. Namun bagi Siti, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan sesaat.

“Kalau ada solusi untuk tahan banjir, itu saja harapan kita. Kalau bisa ada tanggul,” katanya.

Ia memahami banjir rob berkaitan dengan pasang air sungai dan laut yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Namun ia tetap berharap ada langkah nyata untuk meminimalisir dampaknya.

Pada akhirnya, hidup di Kampung Yuka berjalan mengikuti irama pasang dan surut. Ketika air datang, warga berjaga dan bersiap mengungsi. Ketika air surut, mereka membersihkan lumpur dan menata ulang rumah yang kembali basah.

“Capek setiap tahun begini. Kita pengen tidak banjir lagi,” ujar Siti.

Di tengah kepadatan bantaran Sungai Kapuas dan ketidakpastian cuaca, harapan itu terus mereka simpan—menunggu hari ketika air tak lagi datang sebagai ancaman yang berulang.[SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini