Karhutla Landak Makin Mengkhawatirkan, Bupati Karolin Tempuh Jalur Doa

Sebarkan:

Bupati Landak Karolin saat acara bertajuk Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri tersebut digelar di Aula Besar Kantor Bupati Landak pada Kamis (3/9/2026).  SUARANUSANTARA/SK
Landak, Kalbar (Suara Nusantara) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, kian mengkhawatirkan. Kabut asap pekat, kemarau panjang, sumber air yang terus menyusut hingga keterbatasan anggaran membuat penanganan karhutla menghadapi tantangan berat.

Di tengah situasi tersebut, Bupati Landak Karolin Margret Natasa menggelar Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri di Aula Besar Kantor Bupati Landak, Kamis (3/9/2026).

Doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar pemerintah daerah setelah berbagai langkah penanganan karhutla dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, serta unsur terkait lainnya. Upaya pemadaman melalui jalur darat hingga sosialisasi kepada masyarakat telah dilakukan, namun kondisi cuaca yang sangat kering dan minimnya hujan membuat kebakaran masih sulit dikendalikan.

Karolin mengatakan, pemerintah daerah telah berupaya melakukan berbagai langkah untuk mengatasi karhutla. Namun, faktor alam menjadi salah satu kendala terbesar karena hujan belum turun secara signifikan.

“Setelah semua daya upaya dilakukan; pemadaman lewat darat, imbauan, sosialisasi. Pada akhirnya ya, kita mengakui bahwa problem kita ini memang problem alam juga, dengan tidak adanya hujan turun,” ujar Karolin, Kamis (3/9/2026).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat 88 titik panas atau hotspot yang terpantau di Kabupaten Landak dalam tiga hari terakhir.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara. Paparan partikulat halus PM2.5 di sejumlah wilayah telah berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Situasi ini membuat Pemkab Landak mengambil langkah perlindungan terhadap anak-anak sekolah dengan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan menggantinya dengan sistem pembelajaran daring.

Persoalan akibat kemarau panjang juga semakin meluas karena tidak hanya menyangkut kebakaran dan kualitas udara, tetapi telah berdampak terhadap ketersediaan air bersih masyarakat.

Karolin mengungkapkan kondisi Sungai Landak yang mengalami penyusutan debit air secara drastis. Padahal, sungai tersebut menjadi salah satu sumber penting bagi kebutuhan air masyarakat dan pelayanan air bersih.

“Sungai Landak yang begitu besar itu kedalaman air cuma kurang lebih 80 sentimeter, tidak sampai 1 meter hari ini. Sehingga PDAM pun nol, tidak mau, harus bergiliran bagaimana caranya agar air ini bisa tetap kita upayakan,” jelasnya.

Menghadapi kondisi yang semakin meluas, Pemerintah Kabupaten Landak telah menetapkan status tanggap darurat bencana. Pemerintah desa juga didorong untuk segera membentuk posko koordinasi sebagai pusat penanganan dan komunikasi di tingkat desa.

Keberadaan posko tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran. Masyarakat bersama pemerintah desa dapat melakukan upaya awal secara gotong royong sebelum bantuan dari pemerintah kabupaten tiba di lokasi.

Namun, upaya tersebut menghadapi persoalan lain, yakni keterbatasan anggaran di tingkat desa. Karolin mengakui sejumlah desa tidak memiliki anggaran darurat bencana yang memadai, terutama setelah adanya kebijakan efisiensi anggaran.

Untuk mencari solusi, Pemkab Landak mengambil langkah dengan menyampaikan permohonan dukungan kepada pemerintah pusat. Karolin mengatakan dirinya telah menandatangani surat yang ditujukan kepada Menteri Sosial dan Menteri Desa.

“Hari ini saya menandatangani surat untuk permohonan kepada Menteri Sosial dan Menteri Desa, agar desa-desa kami yang saat ini kondisinya defisit ataupun minim sekali dananya, bisa ada program desa siaga bencana atau apapun itu namanya,” tegasnya.

Di tengah kondisi karhutla yang belum sepenuhnya terkendali, Karolin kembali mengingatkan masyarakat agar menghentikan seluruh aktivitas pembakaran. Larangan tersebut tidak hanya menyasar pembukaan lahan, tetapi juga aktivitas membakar sampah di lingkungan rumah.

Menurutnya, kondisi lahan yang sangat kering ditambah angin kencang membuat api sekecil apa pun berpotensi dengan cepat membesar dan menjalar ke wilayah lain, termasuk mendekati permukiman warga.

“Sudah tebal asap, masih lagi bakar. Kalau situasi sudah seperti ini, ya sudahlah, setop dulu apapun aktivitasnya,” pungkas Karolin.

Pemkab Landak berharap hujan segera turun sehingga membantu proses pemadaman, mengurangi kabut asap, sekaligus memulihkan ketersediaan air bersih masyarakat. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah munculnya titik kebakaran baru.[SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini