![]() |
Di sejumlah sekolah, para ayah tampak mendampingi putra-putri mereka memasuki lingkungan belajar yang baru. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan sekaligus bentuk keterlibatan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.
Salah satunya adalah Indra, orang tua siswa kelas 1 SDN 05 Pontianak. Meski sehari-hari bekerja sebagai sopir dan memiliki aktivitas yang padat, ia tetap menyempatkan diri mengantar anaknya pada hari pertama sekolah.
“Senang sih bisa. Karena biasanya saya sibuk, kurang sempat mengantar anak sekolah. Cuma di momen ini alhamdulillah bisa disempatkan,” ujarnya.
Indra mengaku bahagia melihat antusiasme anaknya yang begitu bersemangat menyambut hari pertama sekolah. Bahkan sejak pagi, sang anak sudah bangun lebih awal dan tidak sabar mengenakan seragam sekolah.
“Anak saya bahagia sekali, senang. Bangun pun awal, semangat di hari pertama sekolah,” katanya.
Semangat serupa juga terlihat dari Efprizan, ayah dari Abi yang mulai menempuh pendidikan di kelas 7 SMPN 1 Pontianak. Bersama istrinya, ia membagi tugas mengantar anak-anak mereka yang sama-sama memulai jenjang pendidikan baru.
“Yang satu baru masuk TK, itu istri yang mengantar. Yang ini, Abi, baru masuk SMP, saya yang mengantar. Jadi berbagi lah,” tuturnya.
Menurut Efprizan, gerakan ayah mengantar anak sekolah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengantar ke gerbang sekolah. Kehadiran ayah menjadi bentuk perhatian dan dukungan emosional yang penting bagi perkembangan anak.
“Kalau saya kebetulan fleksibel waktunya, jadi tidak masalah untuk mengantar anak. Karena setiap hari juga saya mengantar anak,” ungkapnya.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa kehadiran ayah pada hari pertama sekolah merupakan bagian dari penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Pemerintah Kota Pontianak mendorong para orang tua, khususnya ayah, untuk hadir mendampingi anak, terutama bagi peserta didik baru tingkat SD dan SMP.
“Hari ini bukan hanya imbauan, tapi juga bagian dari kehadiran ayah dalam pengasuhan,” ujar Edi.
Menurutnya, momen tersebut juga memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengenal lebih dekat lingkungan sekolah tempat anak mereka belajar. Dengan melihat langsung ruang kelas, fasilitas pendidikan, hingga suasana sekolah, orang tua dapat memahami kondisi yang akan dihadapi anak setiap hari.
“Orang tua bisa melihat langsung lingkungan sekolah, kondisi kelasnya seperti apa, fasilitasnya seperti apa, dan suasana belajarnya seperti apa,” katanya.
Edi berharap keterlibatan orang tua sejak hari pertama sekolah dapat memperkuat kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mendukung proses pendidikan anak.
“Harapan kita ada sinergisitas dan kolaborasi dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.
Dari hasil pemantauan di lapangan, ia menyebut antusiasme orang tua sangat tinggi. Hampir seluruh peserta didik datang ke sekolah didampingi orang tua mereka.
“Sudah disampaikan kepada orang tua murid semuanya. Hari ini hampir 100 persen orang tua murid mengantar anak langsung ke sekolah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SDN 05 Kecamatan Pontianak Kota, Titi Falah, mengapresiasi respons positif para orang tua terhadap ajakan sekolah untuk mendampingi anak pada hari pertama masuk sekolah.
Menurutnya, sejak pagi lingkungan sekolah dipadati orang tua yang mengantar anak, termasuk para ayah yang menyempatkan waktu sebelum berangkat bekerja.
“Alhamdulillah, mereka menanggapi baik. Mereka mau bekerja sama dengan sekolah. Tadi pagi ramai yang mengantar, termasuk papa. Walaupun bekerja, mereka tetap siap mengantar,” ucapnya.
Titi menjelaskan bahwa kegiatan MPLS di SDN 05 Pontianak akan berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat. Berbagai kegiatan edukatif dan menyenangkan telah disiapkan untuk membantu peserta didik baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“MPLS dilaksanakan lima hari. Pagi-pagi mereka ada kegiatan pagi ceria, permainan, dan edukasi juga. Hari Jumat ada unjuk minat bakat,” tutupnya.
Kehadiran orang tua, khususnya ayah, pada hari pertama sekolah menjadi gambaran kuat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga hasil kolaborasi antara keluarga dan satuan pendidikan. Dukungan sejak langkah pertama ini diharapkan mampu membangun rasa percaya diri, kenyamanan, dan semangat belajar anak dalam menempuh jenjang pendidikan yang baru.[SK]
