Museum Provinsi Kalimantan Barat, Minggu (17/5/2026).
Suasana festival berlangsung meriah dengan rangkaian tari jepin bersama yang melibatkan mahasiswa, komunitas olahraga masyarakat, hingga sejumlah induk organisasi olahraga (Inorga) di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia.
Beragam permainan rakyat dan olahraga tradisional ditampilkan dalam festival tersebut sebagai sarana edukasi budaya sekaligus upaya meningkatkan kebugaran masyarakat di tengah perkembangan gaya hidup modern.
Dalam sambutannya, Harisson menegaskan pentingnya mengemas olahraga tradisional secara menarik agar mampu diminati generasi muda, terutama di era digital saat ini.
“Anak-anak sekarang ini perlu diberikan ruang aktivitas yang menyenangkan supaya mereka mau bergerak dan berolahraga. Karena itu olahraga tradisional harus dikemas semenarik mungkin. Kalau menarik, mereka akan ikut serta dan mau bergerak aktif sehingga kesehatan tubuh mereka tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut Harisson, permainan rakyat tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga memiliki manfaat besar dalam membangun kebersamaan sosial dan menjaga kesehatan fisik masyarakat.
“Permainan tradisional ini mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, kegembiraan, sekaligus aktivitas fisik yang baik untuk tubuh. Jadi bukan hanya budaya yang dijaga, tetapi juga kesehatan masyarakat ikut terpelihara,” katanya.
Ia turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan dan program Dana Indonesiana yang dinilai turut berperan dalam mendukung pengembangan budaya dan olahraga masyarakat di Kalimantan Barat.
“Kegiatan seperti ini memang harus banyak dilaksanakan agar masyarakat memiliki ruang untuk tetap aktif, sehat, dan bugar,” tuturnya.
Lebih lanjut, Harisson menilai festival berbasis budaya seperti ini memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi multikultural karena mampu mempertemukan berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang latar belakang.
“Kalbar ini kaya akan budaya dan keberagaman. Festival seperti ini dapat menjadi ruang yang baik untuk memperkuat persatuan masyarakat melalui olahraga dan budaya. Semua bisa berkumpul, bermain, bergembira, dan saling mengenal,” ungkapnya.
Ia pun berharap permainan rakyat khas Kalimantan Barat terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya sendiri, siapa lagi. Saya berharap anak-anak muda semakin mengenal permainan tradisional daerahnya sendiri dan bangga terhadap budaya Kalbar,” harapnya.
Menutup sambutannya, Harisson kembali mengajak masyarakat untuk menjaga kebugaran melalui aktivitas olahraga masyarakat dan pelestarian budaya daerah.
“Saya memberikan penghargaan kepada panitia dan semua pihak yang telah memberikan ruang serta waktu untuk menggerakkan masyarakat agar lebih sehat dan bugar,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Rubiyanto, mengatakan festival tersebut digelar sebagai bentuk komitmen bersama dalam melestarikan permainan tradisional sekaligus memperkenalkan olahraga masyarakat kepada generasi muda.
“Festival ini bukan hanya kegiatan hiburan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga identitas budaya masyarakat Kalbar. Kami ingin generasi muda mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan permainan tradisional yang kita miliki,” katanya.
Menurut Rubiyanto, permainan rakyat mengandung nilai pendidikan karakter, sportivitas, dan kebersamaan yang penting diwariskan kepada generasi penerus.
“Permainan tradisional mengajarkan kerja sama, ketangkasan, kejujuran, dan kebersamaan. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk terus ditanamkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang tetap hadir dan mengikuti festival meski sempat diguyur hujan ringan.
“Alhamdulillah masyarakat tetap semangat hadir. Ini menandakan bahwa kecintaan terhadap budaya daerah masih sangat kuat. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin,” pungkasnya.[SK]
