Satu Kasus Hantavirus Ditemukan di Kalbar, Sekda Harisson Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Sebarkan:

Sekda Kalbar, Harisson ketika dimintai keterangan mengenai kasus Hantavirus.SUARANUSANTARA/SK
Pontianak, Kalbar (Suara Nusantara) – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengonfirmasi adanya satu kasus terdeteksi virus hanta di wilayah Kalbar. Kepastian tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dan telah terverifikasi melalui uji laboratorium.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis perkembangan terbaru kasus hantavirus di Indonesia melalui kanal resmi media sosialnya. Dalam laporan tersebut disebutkan terdapat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi secara nasional, dengan satu kasus berasal dari Kalimantan Barat.

“Iya, ditemukan satu kasus virus hanta di Kalbar berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi, salah satunya Kalimantan Barat,” ujar Harisson.

Ia menjelaskan, pasien yang terkonfirmasi sempat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kalbar selama satu hari. Pasien masuk rumah sakit pada 2 Maret 2026 dan meninggal dunia pada 3 Maret 2026.

Menurut Harisson, kondisi pasien saat tiba di rumah sakit sudah cukup berat. Pasien mengalami ikterik atau kondisi tubuh menguning, anuri atau tidak mengeluarkan urine, serta demam tinggi yang berlangsung selama empat hari sebelum mendapatkan penanganan medis.

Meski demikian, Harisson memastikan penanganan kasus dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) Kementerian Kesehatan serta tata laksana penanganan infeksi zoonosis.

“Penanganan virus hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” katanya.

Pemerintah Provinsi Kalbar juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun area yang berpotensi terkontaminasi.

Selain itu, masyarakat diminta rutin mencuci tangan, menjaga sanitasi rumah dan lingkungan sekitar, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi setelah kontak dengan lingkungan yang tercemar.

Pemerintah bersama dinas kesehatan terus melakukan edukasi dan langkah pencegahan guna meminimalkan risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut di tengah masyarakat.[SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini