![]() |
| Tio Magdalena Manurung, guru asal SMAS Kristen Immanuel Pontianak yang berhasil lolos program Indonesia–Korea Teacher Exchange (IKTE) 2026.SUARANUSANTARA/SK |
Komentar
![]() |
| Tio Magdalena Manurung, guru asal SMAS Kristen Immanuel Pontianak yang berhasil lolos program Indonesia–Korea Teacher Exchange (IKTE) 2026.SUARANUSANTARA/SK |
Tio dinyatakan lolos dalam program Indonesia–Korea Teacher Exchange (IKTE) 2026 yang berada di bawah naungan Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU).
Keberhasilan tersebut diraih setelah melalui serangkaian proses seleksi yang cukup ketat dan panjang. Tio mengaku bersyukur dapat menjadi salah satu peserta terpilih dalam program internasional tersebut.
“Tahap seleksi pertama itu pemberkasan dokumen yang hampir memakan waktu satu bulan. Banyak yang harus disiapkan seperti sertifikat kemampuan Bahasa Inggris, surat izin kepala sekolah, hingga surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Tio kepada Suarakalbar.co.id, Senin (16/6/2026).
Tak hanya seleksi administrasi, pada tahap berikutnya Tio juga diminta menyusun project plan serta membuat video presentasi yang dipresentasikan di Jakarta sebagai bagian dari penilaian akhir.
Dalam video tersebut, Tio mengangkat kekayaan budaya Kalimantan Barat sebagai identitas daerah yang ingin diperkenalkannya ke tingkat internasional.
“Dalam video tersebut, saya menampilkan identitas budaya Kalbar lewat tarian Dayak, proses memasak Bubur Pedas khas Sambas, serta aktivitas merajut yang mengintegrasikan kain tenun Dayak Sintang,” ungkapnya.
Melalui program pertukaran guru ini, Tio berkomitmen untuk meningkatkan profesionalisme sebagai pendidik, khususnya dalam pengembangan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta integrasi teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan.
“Saya ingin belajar langsung dari sistem pendidikan Korea Selatan yang dikenal maju dalam bidang tersebut,” tambahnya.
Ia juga berharap pengalaman internasional yang diperoleh nantinya dapat memperkuat kemampuan komunikasi antarbudaya sekaligus membuka peluang kolaborasi pendidikan lintas negara.
Menurut Tio, program yang berada di bawah koordinasi APCEIU tersebut akan mempertemukan para guru dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand.
“Melalui program ini saya berharap dapat memperkuat kompetensi komunikasi antarbudaya dan kolaborasi internasional bersama para guru dari berbagai negara,” tuturnya.
Keberhasilan Tio Magdalena Manurung dinilai menjadi inspirasi bagi para tenaga pendidik di Kalimantan Barat untuk terus meningkatkan kompetensi dan berani bersaing di tingkat internasional, sekaligus membawa budaya daerah dikenal lebih luas di dunia global.[SK]