![]() |
| Dapur MBG di willayah Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.SUARANUSANTARA/SK |
Sejumlah warga menyayangkan minimnya komunikasi dari pihak pengelola MBG, salah satunya Cibok, yang menilai pembangunan fasilitas tersebut seharusnya melibatkan pemerintah desa sejak awal.
“Karena dibangun di wilayah Sanatab, seharusnya ada koordinasi, minimal pemberitahuan. Ini kemarin sudah launching, perangkat desa saja tidak mengetahui,” ujar Cibok, Minggu (7/12/2025).
Kepala Desa Sanatab, Rino, turut membenarkan adanya keluhan warga. Ia mengaku kecewa karena pengelola dapur MBG tidak pernah melakukan komunikasi, baik saat persiapan maupun menjelang peresmian pada 6 Desember 2025.
“Saya sebagai Kepala Desa Sanatab merasa kecewa atas sikap pengelola Dapur MBG yang berada di wilayah pemerintahan Desa Sanatab,” ungkapnya.
Rino menjelaskan bahwa selama kurang lebih dua hingga tiga bulan proses persiapan berlangsung, tidak ada laporan ataupun pemberitahuan kepada RT, kepala dusun, bahkan pemerintah desa.
“Kami merasa seperti tidak dianggap,” tegasnya.
Lokasi dapur MBG diketahui menempati sebuah ruko milik warga pendatang yang baru mengurus perpindahan alamat dan disewa oleh vendor pengelola. Namun, karena tidak ada komunikasi resmi, pemerintah desa kerap kesulitan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait siapa pengelola, bagaimana mekanisme kerja dapur, hingga isu dugaan keracunan siswa yang sempat beredar di beberapa daerah lain.
“Kami menyayangkan hal ini, padahal program ini merupakan program nasional yang seharusnya transparan. Koordinasi secara vertikal mestinya dijalankan karena lokasi berada di wilayah desa,” kata Rino.
Rino menegaskan bahwa pemerintah desa pada dasarnya sangat mendukung Program Makan Bergizi Gratis, terutama karena wilayah perbatasan sangat membutuhkan perhatian dan fasilitas serupa. Namun ia berharap setiap pihak yang membawa program ke desa dapat menghargai struktur pemerintahan setempat.
“Kalau bertamu harus mengetuk pintu tuan rumah. Kami tetap mendukung program pemerintah selama tidak mengabaikan potensi dan peran desa,” ujarnya.
Meski kecewa, Rino tetap mengapresiasi pemerintah pusat atas hadirnya program MBG di Desa Sanatab.
“Semoga program ini berjalan sesuai harapan dan benar-benar bermanfaat bagi para siswa,” pungkasnya.
Kejadian ini menjadi pembelajaran penting mengenai pentingnya koordinasi dalam pelaksanaan program nasional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan dapat berjalan lebih efektif di tingkat desa.[SK]
