Orangutan Masuk Kebun Warga, Tim Gabungan Lakukan Translokasi ke Gunung Palung

Sebarkan:

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia, unsur TNI–Polri, serta masyarakat berhasil mentranslokasikan satu individu orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung.SUARANUSANTARA/SK
Ketapang, Kalbar (Suara Nusantara) – Upaya penyelamatan satwa liar kembali dilakukan di Kalimantan Barat. Tim gabungan yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), unsur TNI–Polri, serta masyarakat, berhasil mentranslokasikan satu individu orangutan dari area perkebunan warga.

Satwa dilindungi tersebut sebelumnya ditemukan di Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Keberadaannya telah dilaporkan warga sejak akhir tahun lalu karena kerap melintasi kebun kelapa dan karet milik masyarakat.

Dalam sepekan terakhir, orangutan itu mulai menetap di kebun kelapa warga, sehingga menimbulkan kerugian sekaligus kekhawatiran, terutama karena ukuran tubuhnya yang cukup besar.

Asisten Manajer Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi, menjelaskan bahwa langkah translokasi diambil sebagai opsi terakhir setelah berbagai upaya penanganan dilakukan.

“Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Berdasarkan asesmen di lapangan, keberadaan orangutan di kebun warga berisiko menimbulkan kerugian ekonomi dan rasa takut yang dapat berujung pada tindakan berbahaya,” ujarnya.

Ia menegaskan, translokasi bukan sekadar memindahkan satwa, tetapi mengembalikannya ke habitat alami yang lebih aman dan sesuai dengan kebutuhan hidupnya.

Sementara itu, dokter hewan YIARI, drh. Rachel, mengungkapkan hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi satwa tersebut relatif baik meskipun terdapat beberapa luka ringan.

“Ditemukan luka alami di bagian wajah dan lengan kiri serta fraktur pada gigi. Luka kemungkinan akibat aktivitas di lingkungan seperti semak bambu. Namun secara umum kondisinya sehat dan layak untuk ditranslokasikan,” jelasnya.

Setelah pemeriksaan, orangutan kemudian dibawa menuju Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki tingkat perlindungan tinggi serta ketersediaan pakan yang memadai. Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air.

Sesampainya di dalam kawasan hutan, masyarakat setempat turut membantu membawa kandang angkut ke titik pelepasan. Saat dilepasliarkan, orangutan menunjukkan respons positif dengan segera menjauh dan memperlihatkan perilaku liar, yang menjadi indikator kesiapan untuk kembali hidup mandiri di habitatnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi sinergi lintas pihak dalam proses penyelamatan tersebut. Ia menilai translokasi menjadi langkah strategis dalam melindungi satwa sekaligus meminimalkan konflik antara manusia dan satwa liar.

Senada, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, menegaskan komitmen menjaga kawasan konservasi agar tetap menjadi rumah aman bagi orangutan dan satwa lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyoroti perubahan tata guna lahan sebagai tantangan utama dalam mitigasi konflik manusia dan satwa liar.

“Orangutan bukan pendatang di wilayah ini. Mereka sudah ada jauh sebelum konversi lahan terjadi. Kini ruang hidup mereka semakin sempit. Kita perlu belajar hidup berdampingan, karena sesungguhnya kitalah yang menempati rumah mereka,” pungkasnya.[SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini