![]() |
| Kepala Dinas Kesehata Kota Pontianak, Saptiko.SUARANUSANTARA/SK |
Kepala Dinkes Kota Pontianak, Saptiko, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus bukan disebabkan oleh meningkatnya penularan, melainkan karena adanya perubahan strategi penemuan kasus yang kini dilakukan secara aktif oleh petugas lapangan dan kader kesehatan.
“Kasus TBC di Kota Pontianak tahun 2025 dari Januari sampai sekarang sudah ditemukan 2.245 orang. Angka ini meningkat karena sistemnya sudah berubah. Kalau dulu menunggu pasien datang ke puskesmas, sekarang para kader TBC turun langsung ke rumah-rumah untuk sosialisasi dan mencari pasien,” ujar Saptiko, Sabtu (1/11/2025).
Saptiko menyebutkan, penderita TBC di Pontianak didominasi oleh kelompok usia produktif 18–50 tahun, meski terdapat pula sejumlah kasus pada anak-anak. Ia menekankan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang bisa dicegah dan disembuhkan jika pasien menjalani pengobatan dengan benar dan disiplin.
“Pencegahannya ada beberapa cara. Untuk bayi dan balita wajib imunisasi. Sedangkan bagi yang sudah terkena, wajib minum obat secara rutin. Setelah dua minggu pengobatan, biasanya pasien sudah tidak menular lagi,” jelasnya.
Untuk menekan penyebaran, Dinkes Pontianak kini menerapkan strategi penemuan kasus secara masif (active case finding) agar pasien dapat segera mendapatkan pengobatan dan tidak menularkan TBC ke orang lain.
“Strategi utama kami adalah memperbanyak penemuan pasien TBC agar bisa segera diobati,” tambah Saptiko.
Selain skrining, Dinkes juga menggandeng pemerintah kelurahan untuk membentuk program “Kelurahan Siaga TBC.” Salah satunya telah diluncurkan di Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota, pada Kamis (30/10/2025).
“Dengan adanya Kelurahan Siaga TBC, masyarakat diharapkan lebih sadar tentang gejala penyakit ini dan tahu harus berobat ke mana,” ungkapnya.
Saptiko mengimbau agar warga yang tengah menjalani pengobatan TBC tetap disiplin minum obat sampai tuntas demi mencegah kekambuhan dan penularan kepada keluarga maupun masyarakat sekitar.
“TBC bisa sembuh total, tapi kuncinya disiplin minum obat. Kalau putus di tengah jalan, bakteri bisa kebal dan jadi lebih sulit disembuhkan,” tegasnya.
Dengan strategi jemput bola, pembentukan Kelurahan Siaga TBC, dan edukasi berkelanjutan, Dinas Kesehatan Kota Pontianak optimistis angka penularan TBC dapat terus ditekan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah mendukung eliminasi TBC tahun 2030 sesuai target nasional Kementerian Kesehatan RI.[SK]
