PKC PMII Kalbar Gelar Ngaji Kebangsaan, Prof Ali Masykur Musa Tekankan Integritas dan Akhlak sebagai Kunci Kepemimpinan

Sebarkan:

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Barat menggelar Ngaji Kebangsaan di Sekretariat PKC PMII Kalbar, Sabtu (11/7/2026). DUARANUSANTARA/SK
Pontianak, Kalbar (Suara Nusantara) – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Barat menggelar kegiatan Ngaji Kebangsaan di Sekretariat PKC PMII Kalbar, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah penguatan nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan kepemimpinan bagi kader PMII dengan menghadirkan tokoh nasional, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, S.H., M.Si., M.Hum., sebagai pembicara utama.

Mengangkat tema “Membangun Generasi Intelektual yang Moderat, Nasionalis, dan Berakhlakul Karimah dalam Menjaga Persatuan Bangsa”, kegiatan tersebut dihadiri ratusan kader dan alumni PMII dari berbagai daerah di Kalimantan Barat.

Turut hadir Ketua Mabinda PKC PMII Kalbar Prof. Dr. H. Zaenuddin, M.A., Sekretaris Umum IKA-PMII Kalbar Didi Darmadi, S.Pd.I., M.Lett., M.Pd., Ketua PKC PMII Kalbar Ach. Syukron, Bendahara ISNU Kalbar Sri Puji Hastuti, S.P., Komisioner KOU Kalbar Suryadi, S.Pd., Miftahul Akhyar, S.H., M.H., tokoh senior pergerakan H. Irsan, S.Ag., M.H., serta sejumlah tokoh dan kader PMII lainnya.

Dalam tausiyah kebangsaannya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1991–1994 itu mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga semangat perjuangan organisasi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Sebagai bentuk penguatan identitas kader, Prof. Ali bahkan mengawali penyampaiannya dengan mengajak seluruh peserta menyanyikan Mars PMII.

Ia menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme di Indonesia bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Menurutnya, nilai-nilai keislaman telah terakomodasi secara harmonis dalam Pancasila yang menjadi dasar negara dan konsensus nasional bangsa Indonesia.

“Pancasila adalah titik temu yang telah final. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang sejalan dengan ajaran Islam, sehingga tugas generasi muda hari ini adalah menjaga dan mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ali juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini, yakni krisis moral dan karakter di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi. Menurutnya, kecerdasan intelektual tidak akan memiliki makna apabila tidak dibarengi dengan kekuatan spiritual dan akhlak yang baik.

“Banyak orang yang pandai, alim, tapi kalau ilmu batiniah dan rohaniahnya hilang, maka tidak ada nilainya. Hati itu seperti cermin. Kalau kotor, cahaya Tuhan tidak akan bisa memantul ke dalam diri kita,” katanya.

Ia mengingatkan pentingnya membangun disiplin diri sejak dini, termasuk membiasakan bangun lebih awal untuk beribadah dan menjaga kedekatan dengan Tuhan. Menurutnya, kebiasaan generasi muda yang lebih dahulu membuka telepon genggam saat bangun tidur dibandingkan melaksanakan ibadah menjadi salah satu tantangan yang harus diperbaiki.

Prof. Ali juga membagikan pengalaman panjangnya selama berkiprah sebagai birokrat, politisi, anggota DPR RI, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, hingga komisaris BUMN pada masa beberapa pemerintahan. Dari perjalanan tersebut, ia memperkenalkan konsep sukses yang disebutnya sebagai ICE (Integrity, Care, Excellence).

Menurutnya, Integrity atau integritas merupakan fondasi utama dalam kehidupan dan kepemimpinan. Kejujuran, konsistensi, dan kepercayaan publik menjadi modal yang tidak ternilai bagi siapa pun yang ingin sukses.

“Begitu seseorang tidak dipercaya atas integritasnya, saat itu pula orang tersebut tidak akan dipakai lagi,” tegasnya.

Pilar kedua, Care, menekankan pentingnya kepedulian dan kemampuan membangun kolaborasi. Ia menilai keberhasilan tidak mungkin diraih secara individual, melainkan melalui kerja sama dan sinergi yang kuat.

“Membangun teamwork itu wajib. Hidup itu harus berbagi, harus bersinergi, jangan individualistis,” katanya.

Ia mengibaratkan pentingnya kerja sama seperti sebuah tim sepak bola yang hanya dapat meraih kemenangan apabila seluruh pemain bekerja dalam satu visi dan tujuan yang sama.

Sementara itu, pilar ketiga yakni Excellence menekankan pentingnya menjadi pribadi yang unggul dan berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun organisasi. Dengan gaya komunikatif yang diselingi humor, Prof. Ali memotivasi para mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mengejar prestasi terbaik.

“Kader PMII harus jadi yang terbaik. Kalau IPK-nya 3,5 ke atas, itu namanya Madecer, Masa Depan Cerah. Kalau di bawah 3, itu Madesu, Masa Depan Suram,” ucapnya yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Menutup pemaparannya, Prof. Ali Masykur Musa mengajak seluruh kader PMII untuk terus belajar, menjaga akhlak, memperkuat integritas, serta tidak berhenti berproses dalam mengembangkan kapasitas diri. Ia meyakini bahwa perpaduan antara kecerdasan intelektual, moralitas, dan semangat kebangsaan akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa dan negara.

Sementara itu, Ketua PKC PMII Kalbar Ach. Syukron menyampaikan bahwa kegiatan Ngaji Kebangsaan merupakan bagian dari upaya organisasi dalam memperkuat kualitas kader di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Melalui forum tersebut, kader PMII diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan dan kepemimpinan yang kuat.

Melalui kegiatan ini, PKC PMII Kalimantan Barat berharap kader-kader PMII semakin kokoh memegang nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, nasionalisme, dan integritas dalam setiap pengabdian. Dengan bekal tersebut, kader PMII diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, masyarakat, dan Indonesia secara keseluruhan, [SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini