![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kayong Utara, Jumadi Gading.SUARANUSANTARA/SK |
Menurut Jumadi, pembiayaan proyek tersebut bersumber dari APBD Perubahan (APBD-P) serta dana pusat melalui program revitalisasi dan rehabilitasi.
“Kalau dana pusat, ada tujuh sekolah yang mendapat bantuan, dan dananya diterima langsung oleh kepala sekolah atau komite,” ujarnya kepada suarakalbar.co.id, Selasa (18/11/2025).
Jumadi menegaskan bahwa salah satu fokus utama tahun ini adalah pembangunan dan perbaikan Rumah Dinas Guru (RGS), terutama di wilayah kepulauan yang masih minim fasilitas layak huni.
“Wilayah Kepulauan Karimata, Pulau Maya, hingga desa terpencil seperti Serutu yang hanya memiliki sembilan siswa tetap kami prioritaskan. Para guru di sana membutuhkan tempat tinggal yang layak,” jelasnya.
Dari total 113 paket pekerjaan, sebagian besar merupakan proyek rehabilitasi, bukan pembangunan baru. Seluruh pekerjaan masuk kategori paket kecil dengan durasi pengerjaan sekitar 30–40 hari.
Salah satu perbaikan paling mendesak adalah di SD 33 Simpang Hilir (Nipah Kuning), yang mengalami kerusakan atap parah dan kerap bocor saat hujan.
“Semua proyek rehabilitasi kami targetkan tuntas pada 2025,” tegas Jumadi.
Kadisdik juga mengingatkan seluruh rekanan untuk melaksanakan proyek sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta standar teknis yang berlaku.
“Kami berharap hasilnya benar-benar bermanfaat. Jika bangunan bagus dan fasilitas memadai, tentu akan menunjang mutu pendidikan anak-anak kita,” katanya.
Menutup penjelasannya, Jumadi memastikan bahwa SDN 32 Jelutung di Kecamatan Simpang Hilir, yang mengalami kerusakan parah, telah masuk dalam daftar prioritas rehabilitasi berat tahun ini.
Dengan percepatan pembangunan infrastruktur pendidikan ini, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara berharap pemerataan akses dan kualitas pendidikan dapat terus meningkat, terutama di daerah kepulauan dan wilayah sulit dijangkau.[SK]
