BNPT Libatkan 250 Guru di Sumatera Utara untuk Cegah Penyebaran Paham Kekerasan di Kalangan Pelajar

Sebarkan:

Foto Bersama di acara Pelatihan literasi digital berbasis moderasi yang melibatkan ratusan tenaga pendidik di Sumatera Utara.
Medan, Kalbar (Suara Nusantara)– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham kekerasan di kalangan pelajar melalui pelatihan literasi digital berbasis moderasi yang melibatkan lebih dari 250 tenaga pendidik di Sumatera Utara.

Kegiatan yang diselenggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara bersama BNPT tersebut berlangsung di Andaliman Hall, Medan, pada 20–21 Oktober 2026. Peserta terdiri atas guru SMA, MA, SMP, MTs, serta ustaz dan ustazah dari pondok pesantren di wilayah Sumatera Utara.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam menghadapi penyebaran propaganda kekerasan, intoleransi, ujaran kebencian, dan paham radikal melalui media sosial maupun berbagai platform digital.

Ketua FKPT Sumatera Utara, Prof. Arifuddin Muda Harahap, berharap keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut dapat membantu mencegah potensi kekerasan dan ekstremisme di lingkungan pendidikan.

Guru Berperan Strategis dalam Pencegahan Radikalisme

Pelaksana Tugas Deputi Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Pol Wawan Ridwan, mengatakan guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, serta menjadi teladan bagi peserta didik.

Menurutnya, peran guru semakin penting karena proses pembelajaran dan pembentukan karakter anak kini tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi di ruang digital.

“Bapak dan Ibu membentuk karakter, kemudian juga menanamkan nilai kebangsaan dan menjadi teladan,” kata Wawan.

Ia menjelaskan, kemudahan akses internet memberikan manfaat besar bagi pendidikan dan pertukaran informasi. Namun, ruang digital juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, serta propaganda yang mengarah pada radikalisme dan terorisme.

Wawan menyebutkan, berdasarkan hasil riset BNPT di Sumatera Utara yang dipaparkannya dalam kegiatan tersebut, internet dan media sosial menjadi saluran dengan tingkat keterpaparan tinggi terhadap ekstremisme berbasis kekerasan. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan tantangan literasi digital di masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak yang merasa terasing, kurang memperoleh perhatian, atau tidak didengar di lingkungan sekitarnya dapat menjadi sasaran pesan yang menawarkan rasa diterima dan identitas kelompok.

Dalam pemaparannya, Wawan mengutip hasil penyelidikan Densus yang menunjukkan sekitar 740 anak di 26 provinsi telah terpapar ideologi kekerasan, dengan sekitar 300 anak di antaranya disebut terpapar melalui jaringan. Ia juga memperkirakan jumlah sebenarnya dapat melampaui 4.000 anak berdasarkan komunikasi dengan pihak intelijen Densus.

Angka tersebut merupakan keterangan yang disampaikan narasumber dan memerlukan rujukan data resmi untuk verifikasi lebih lanjut.

Wawan turut menyinggung sejumlah peristiwa di SMA 72 Jakarta, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat yang menurutnya memperlihatkan paparan ideologi kekerasan serta perilaku meniru konten digital. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua peristiwa tersebut berkaitan dengan jaringan terorisme.

Tiga Langkah Pencegahan bagi Tenaga Pendidik

Dalam pelatihan tersebut, Wawan menyampaikan tiga langkah yang dapat dilakukan guru untuk membantu mencegah penyebaran paham kekerasan di kalangan pelajar.

Pertama, guru diharapkan menjadi teladan dalam menggunakan media sosial, termasuk dalam menyikapi perbedaan pendapat dan keberagaman.

Kedua, guru perlu menjadi pendengar yang baik serta peka terhadap perubahan perilaku siswa, seperti menarik diri dari pergaulan atau menunjukkan sikap memusuhi teman.

Ketiga, tenaga pendidik didorong aktif menyebarkan pesan positif di ruang digital dengan mengangkat nilai perdamaian, toleransi, dan kebinekaan.

Menurut Wawan, pencegahan tidak cukup dilakukan melalui larangan. Komunikasi terbuka dan pendampingan diperlukan agar siswa merasa didengar sekaligus mampu memilah informasi yang diterima.

Kesbangpol Sumut Tekankan Pentingnya Wawasan Kebangsaan

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara melalui Kepala Bidang Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik, Emir Mahbob Lubis, mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Ia menilai literasi digital berbasis moderasi dapat menjadi salah satu upaya memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus mencegah ancaman terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurut Emir, perkembangan teknologi membuat ancaman terhadap masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ruang digital juga dapat menjadi sarana penyebaran radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, propaganda, dan narasi kebencian.

Karena itu, guru tidak hanya berperan menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu membangun karakter moral dan pandangan hidup peserta didik, khususnya pada masa remaja ketika mereka sedang mencari jati diri.

Literasi Digital Dinilai Penting bagi Masa Depan Generasi Muda

Anggota Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, turut mengajak peserta memahami literasi digital dalam konteks persaingan global dan pembentukan karakter generasi muda.

Ia mengatakan persaingan antarnegara tidak hanya berlangsung dalam bidang ekonomi, energi, pangan, dan militer, tetapi juga melalui pengaruh terhadap cara berpikir masyarakat.

Sugiat mengangkat pemikiran Antonio Gramsci mengenai hegemoni untuk menjelaskan bagaimana pengaruh dapat terbentuk melalui gagasan dan cara pandang, bukan hanya melalui paksaan.

Menurutnya, arus informasi dan konten digital dapat memengaruhi cara anak memandang kekerasan, menyikapi perbedaan, serta berinteraksi dengan lingkungan sosial. Oleh sebab itu, literasi digital perlu menjadi bagian dari upaya memperkuat karakter dan kesadaran kebangsaan.

Ia mengingatkan agar pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi ditindaklanjuti melalui upaya nyata dalam mendampingi generasi muda menghadapi informasi digital.

“Bukan sekadar sebuah acara yang penuh formalitas, tapi ada semangat melawan segala macam serbuan-serbuan informasi, serbuan-serbuan konten yang bisa merusak generasi muda kita. Dan itu sesungguhnya mencemaskan bagi masa depan bangsa ini,” ujar Sugiat.

Melalui kegiatan ini, BNPT dan FKPT Sumatera Utara berharap para pendidik semakin siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Guru diharapkan dapat menjalankan peran sebagai pengajar, pendamping, dan teladan dalam menanamkan nilai toleransi serta mencegah penyebaran paham kekerasan di lingkungan sekolah dan pesantren. [SK]

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini