Ketapang, Kalbar (Suara Nusantara) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Transmigrasi TR 3, Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, hingga kini belum sepenuhnya padam.Relawan Anti Api dan Asap Kalimantan Barat saat memadamkan api di lokasi Karhutla Desa Sungai Besar Kecamatan MHS, Kamis (10/9/2026). SUARANUSANTARA/SK
Hingga Kamis (10/9/2026), sejumlah titik api masih terpantau aktif. Kepulan asap juga masih terlihat di beberapa lokasi yang sebelumnya terbakar.
Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sungai Besar, Masturi, mengatakan bara api masih ditemukan di sejumlah titik sehingga berpotensi kembali membesar apabila tidak segera ditangani.
“Masih ada beberapa titik api aktif yang bisa membesar kembali. Di beberapa titik juga masih tampak kepelur-kepelur asap,” kata Masturi saat ditemui wartawan di lokasi kebakaran.
Menurut Masturi, karhutla di kawasan tersebut mulai terpantau sejak 1 Agustus 2026. Upaya pemadaman hingga saat ini dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, KPH Ketapang Selatan, MPA, serta Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD).
Namun, proses pemadaman masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Kondisi lahan yang kering, keterbatasan sumber air dan angin kencang membuat api lebih sulit dikendalikan.
Sejumlah titik kebakaran juga sulit dijangkau petugas. Untuk mencapai lokasi tersebut, tim pemadam harus menggunakan mesin pompa portabel agar proses pemadaman dan pembasahan lahan tetap dapat dilakukan.
Berdasarkan pemantauan MPA Desa Sungai Besar, kebakaran diperkirakan telah berdampak terhadap sekitar 350 hektare lahan. Area yang terdampak meliputi lahan kosong, lahan yang telah ditanami hingga perkebunan mandiri milik masyarakat.
Masturi mengatakan kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di kawasan tersebut. Ketebalan lapisan gambut di wilayah itu diperkirakan mencapai sekitar sembilan meter.
Kondisi tersebut membuat api tidak hanya membakar permukaan lahan, tetapi juga dapat bertahan di dalam lapisan gambut meskipun api di permukaan sudah terlihat padam.
“Kadang api di permukaan sudah kelihatan padam, tetapi di dalam gambut masih ada bara. Beberapa hari kemudian bisa muncul lagi dan menyebabkan kebakaran,” jelasnya.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas juga melakukan pembasahan lahan secara menyeluruh untuk memastikan bara yang berada di dalam lapisan gambut tidak kembali menyala.
Masturi berharap hujan segera turun di wilayah tersebut sehingga titik-titik api yang masih tersisa dapat benar-benar padam dan ancaman kebakaran kembali meluas bisa diminimalkan.
“Semoga cepat berlalu dan cepat turun hujan. Ke depan mari kita tetap jaga agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujarnya.[SK]