Fenomena LGBT Menjangkau Pelosok Kapuas Hulu, HWCI Ajak Masyarakat Kedepankan Akhlak dan Toleransi

Sebarkan:

   

Ilustrasi LGBT.SUARANUSANTARA/SK
Kapuas Hulu, Kalbar (Suara Nusantara) – Fenomena perilaku seksual yang kerap disebut sebagai LGBT disebut mulai terlihat hingga ke wilayah pelosok di Provinsi Kalimantan Barat, termasuk di Kabupaten Kapuas Hulu. Kondisi ini menjadi perhatian sekaligus perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Selain dinilai semakin terbuka, fenomena tersebut juga disebut kerap ditampilkan melalui media sosial oleh sejumlah oknum, sehingga memicu beragam respons dari publik.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Humanity Women Children Indonesia (HWCI), Eka Nurhayati Ishaq, mengimbau masyarakat agar tetap mengedepankan akhlak serta bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

“Kita sebagai masyarakat yang berpegang pada nilai agama tentu memiliki pandangan tersendiri. Namun dalam menyikapinya, penting untuk tetap mengedepankan akhlak, tidak membenci orangnya, dan menghindari sikap merendahkan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).

Ia menekankan bahwa pendekatan yang santun, edukatif, dan penuh hikmah jauh lebih efektif dibandingkan dengan celaan atau tindakan yang berpotensi memicu konflik sosial di masyarakat.

“Pendekatan yang penuh hikmah, nasihat yang baik, dan doa jauh lebih mulia daripada celaan atau permusuhan. Kami memahami fenomena ini semakin terlihat di tengah masyarakat, termasuk di Kalimantan Barat,” tambahnya.

Eka menegaskan bahwa pihaknya tidak mendukung maupun menormalisasi perilaku tersebut karena dinilai tidak sejalan dengan nilai agama, norma sosial, dan budaya yang dianut masyarakat.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan tetap memperlakukan setiap individu secara hormat, tanpa kekerasan, perundungan, maupun diskriminasi yang merendahkan martabat.

“Perbedaan pandangan harus disikapi secara bijak melalui pendekatan yang santun, edukatif, dan penuh hikmah, bukan dengan kebencian atau tindakan yang melampaui batas,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam membentuk karakter dan pemahaman anak sejak dini.

“Peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak, agar mereka memiliki pemahaman nilai kehidupan sesuai dengan keyakinan yang dianut, sekaligus mampu hidup harmonis di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Fenomena ini diharapkan dapat disikapi secara arif oleh seluruh elemen masyarakat, dengan tetap menjaga keharmonisan sosial serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di tengah perbedaan pandangan.[SK]
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini