Sambas, Kalbar (Suara Nusantara) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam wilayah Kabupaten Sambas. Kali ini, api melahap kawasan Hutan Produksi (HP) di Desa Selakau Tua, Kecamatan Selakau Timur. Tim Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemadaman pada Senin (19/1/2026) setelah menerima laporan titik panas (hotspot).
Komandan Regu (Danru) Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Ersan, mengungkapkan kebakaran pertama kali terdeteksi berdasarkan laporan Tim GC Hotspot pada Minggu (18/1/2026). Hasil pengecekan lapangan menunjukkan lokasi kebakaran berada di titik koordinat N 1.07863° dan E 109.10167°, dengan kondisi lahan berupa gambut berkedalaman sekitar ±2 meter.
“Vegetasi yang terbakar didominasi pakis, ilalang, resam, dan tanaman sawit. Total luas kebakaran diperkirakan mencapai 29,4 hektare, sementara yang berhasil dipadamkan dan dilokalisir pada hari pertama baru sekitar 1 hektare,” kata Ersan.
Ia menjelaskan, jarak lokasi kebakaran dengan permukiman warga sekitar dua kilometer. Dalam upaya pemadaman, tim memanfaatkan sumber air dari parit di sekitar area dengan kedalaman sekitar tiga meter dan tinggi muka air kurang lebih 70 sentimeter. Operasi pemadaman berlangsung sejak pukul 10.05 WIB hingga 17.15 WIB.
Pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur gabungan, yakni Manggala Agni, Polsek Selakau, Polres Sambas, BPBD Kabupaten Sambas, aparat Desa Selakau Tua dan Desa Seranggam, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Selakau Tua.
Sejumlah peralatan dikerahkan untuk mendukung operasi di lapangan, antara lain 3 unit jet shooter, 1 unit mesin mini strecker, 1 unit mesin Waterax, 15 gulung selang kirim, 2 gulung selang hisap, 3 unit nozzle, 1 unit Y connector, 3 unit handy talky (HT), dan 1 unit garuk tajam. Selama proses pemadaman dan lokalisir, tim mengoperasikan 3 unit mesin pompa air.
Menurut Ersan, kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran bawah (ground fire) yang menjalar di lapisan gambut, sehingga memerlukan penanganan ekstra dan waktu yang lebih lama. Metode pemadaman dilakukan dengan teknik pemotongan, di mana Tim Manggala Agni menerapkan pola 2, sedangkan Tim Polri dan BPBD Kabupaten Sambas menggunakan pola 1.
“Fokus utama pada hari pertama adalah melakukan lokalisir agar api tidak meluas dan mengancam kebun masyarakat di sekitar lokasi,” jelasnya.
Namun, upaya pemadaman tidak berjalan mudah. Tim di lapangan menghadapi cuaca panas ekstrem, angin kencang yang berubah arah secara tiba-tiba, serta akses menuju lokasi yang cukup sulit dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Kondisi tersebut mempercepat penjalaran api dan memperparah kepulan asap,” tambah Ersan.
Melihat luas area yang terbakar serta keterbatasan akses darat, pihak Manggala Agni merekomendasikan dukungan pemadaman melalui udara untuk mempercepat pengendalian api. Pemadaman lanjutan direncanakan kembali dilakukan pada hari berikutnya.
“Kami berharap bantuan pemadaman udara segera diberikan agar api dapat dikendalikan lebih cepat dan tidak meluas ke kebun masyarakat maupun permukiman warga,” pungkas Ersan..[SK]