Sambas, Kalbar (Suara Nusantara) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Peristiwa ini berlangsung selama tiga hari, sejak 26 hingga 28 September 2025, di Dusun Mensungai, Desa Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, dan menghanguskan sekitar 16 hektar lahan.
Manggala Agni Daops Sambas lakukan pemadaman karhutla di Desa Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas yang hanguskan 16 Hektar lahan.SUARANUSANTARA/SK
Komandan Regu (Danru) Manggala Agni Daops Sambas, Hendra Cipta, mengungkapkan bahwa kebakaran ini pertama kali terdeteksi melalui pemantauan tim di lapangan. Dari hasil groundcheck, titik api terkonfirmasi di koordinat N 1.47119 E 109.16218 dan N 1.47087 E 109.16132.
“Lahan yang terbakar merupakan area milik masyarakat. Hingga saat ini, kami belum dapat memastikan siapa pemilik lahan tersebut,” ujar Hendra, Senin (29/9/2025).
Vegetasi yang terbakar terdiri dari pakis, resam, nanas, hingga tanaman sawit yang berada di atas lahan gambut dengan kedalaman sekitar dua meter. Kondisi ini memperparah situasi karena api tak hanya merambat di permukaan, tetapi juga membara di bawah tanah.
Hendra menjelaskan, pemadaman darat dilakukan oleh 7 personel Manggala Agni, dibantu 7 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sekura serta 2 personel Koramil Teluk Keramat.
Dalam operasi ini, tim membawa berbagai peralatan, di antaranya: 2 unit mesin mini striker, 14 selang penghantar, 2 selang hisap, 2 nozle, 2 jet shooter, 1 kopyok, 1 golok, dan 1 konektor.
Sumber air terdekat berada di parit sekitar 10 meter dari lokasi kebakaran. Namun, proses pemadaman tidak mudah karena tipe kebakaran mencakup kebakaran permukaan dan bawah, yang membuat api cepat menyebar dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
“Fokus utama kami adalah mengamankan akses jalan warga dan mencegah api menjalar ke seberang parit, di mana masih banyak lahan yang berpotensi menjadi bahan bakar api,” jelas Hendra.
Selain pemadaman darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kalbar mengerahkan helikopter water bombing untuk memadamkan titik api yang sulit dijangkau. Sinergi antara pemadaman darat dan udara dinilai penting untuk mempercepat pengendalian kebakaran.
Hingga 29 September 2025, kondisi api sudah berhasil dipadamkan. Namun, lahan yang terbakar masih mengeluarkan asap tebal, sehingga tim tetap berjaga dan melakukan pendinginan agar tidak terjadi kebakaran susulan.
“Selama tiga hari, sekitar 16 hektar lahan terbakar, dan dari total itu, 1,8 hektar berhasil dipadamkan serta dilokalisir,” terang Hendra.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat, terutama di wilayah lahan gambut yang rawan terbakar saat musim kemarau.
“Karhutla di wilayah gambut seperti ini harus diwaspadai. Perlu kesadaran bersama agar kejadian serupa tidak terus terulang, karena dampaknya sangat merugikan, baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” tegasnya.[SK]