Melawi, Kalbar (Suara Nusantara) – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Kabupaten Melawi. Di tengah cuaca panas dan kondisi lahan yang semakin kering, titik api kembali muncul di sejumlah wilayah dan memaksa tim penanggulangan bencana bekerja ekstra untuk mencegah kebakaran meluas.
Tim BPBD bersiap menuju lokasi karhutla. SUARANUSANTARA/SK
Terbaru, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi kembali bergerak setelah menerima laporan adanya titik api di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, Selasa (11/8/2026).
Titik api tersebut sebelumnya sempat berhasil dipadamkan. Namun, kondisi lahan yang masih kering membuat potensi munculnya kembali api tetap tinggi. Mendapat laporan tersebut, tim BPBD langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi sekaligus melakukan penanganan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid Darlog) BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Mauludin, mengatakan pihaknya terus merespons setiap informasi mengenai karhutla yang terjadi di wilayah Melawi.
“Hari ini kita mendapatkan informasi terkait adanya titik api di wilayah Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, yang sebelumnya sudah padam. Tim segera kita arahkan ke lapangan untuk melakukan penanganan,” ujar Rahmad saat dikonfirmasi Suara Kalbar.
Selain Nusa Kenyikap, laporan karhutla juga diterima dari Desa Laman Bukit, Kecamatan Belimbing. Kondisi tersebut membuat personel penanggulangan bencana harus membagi perhatian dan bekerja lebih cepat agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Namun, upaya pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Akses menuju lokasi yang jauh dan sulit dijangkau, keterbatasan sumber air, serta minimnya sarana dan prasarana menjadi tantangan yang harus dihadapi petugas.
“Kendala kita dalam penanganan karhutla saat ini, akses lokasi karhutla yang jauh dan sulit, kemudian sumber air, serta sapras yang kurang,” ungkap Rahmad.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan dengan mudah. Petugas harus mengerahkan tenaga dan waktu lebih banyak untuk mencapai lokasi, mencari sumber air, serta memastikan bara yang tersisa benar-benar padam.
Terlebih, lahan yang masih kering berpotensi membuat api kembali menyala meskipun sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Karena itu, pemantauan terhadap lokasi bekas kebakaran menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya kembali titik api.
BPBD Melawi juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memberikan informasi secara cepat. Laporan sedini mungkin dinilai dapat membantu petugas mengambil tindakan sebelum api membesar dan meluas ke area lainnya.
Penanganan karhutla, kata Rahmad, tidak hanya dilakukan ketika kobaran api sudah membesar. Setiap informasi mengenai titik api harus segera ditindaklanjuti mengingat kondisi cuaca panas dan lahan kering dapat membuat api bergerak dengan cepat.
Petugas di lapangan pun harus bekerja dengan perlengkapan yang tersedia, menembus medan sulit, mencari sumber air terdekat, hingga memastikan kondisi lokasi benar-benar aman setelah proses pemadaman.
Besarnya ancaman karhutla di Melawi tahun ini tergambar dari data BPBD setempat. Berdasarkan rekapitulasi kejadian kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga 9 Agustus 2026, total luasan lahan terdampak kebakaran telah mencapai 857,85 hektare.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan cukup signifikan memasuki periode Juli dan Agustus.
Pada 31 Juli 2026, kebakaran di wilayah Kecamatan Ella Hilir tercatat mencapai sekitar 150 hektare. Kemudian pada 4 Agustus 2026, kebakaran di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, tercatat sekitar 135 hektare.
Sehari berikutnya, 5 Agustus, kebakaran kembali terjadi di Desa Tebing Karangan, Kecamatan Nanga Pinoh, dengan luasan sekitar 55 hektare. Pada hari yang sama, kebakaran juga tercatat di Desa Batu Ampar, Kecamatan Belimbing, dengan luasan sekitar 7 hektare.
Kebakaran kemudian terjadi di Bukit Condong pada 6 Agustus dengan luasan sekitar 10 hektare. Sehari berselang, pada 7 Agustus, kebakaran di Desa Nanga Kayan tercatat mencapai sekitar 150 hektare.
Memasuki 8 Agustus, BPBD Melawi kembali mencatat sejumlah lokasi yang terdampak karhutla. Di antaranya Desa Pelinggang, Kecamatan Pinoh Selatan; Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh; Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu; Desa Sungai Raya, Kecamatan Pinoh Utara; Desa Sidomulyo, Kecamatan Nanga Pinoh; serta Desa Bayur Raya, Kecamatan Pinoh Selatan.
Rentetan kejadian tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla di Melawi masih tinggi. Kondisi cuaca panas dan lahan yang mengering dapat memperbesar risiko kebakaran, sementara petugas masih menghadapi keterbatasan akses, sumber air, serta sarana pendukung.
BPBD Melawi pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau titik api di sekitar wilayahnya.
Kecepatan laporan dan respons menjadi kunci agar titik api dapat ditangani sedini mungkin, sehingga kebakaran tidak kembali meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat.[SK]