![]() |
| Kadis PUPR Kalbar, Iskandar Zulkarnaen.SUARANUSANTARA/SK |
Dua ruas yang menjadi fokus penanganan yakni Nanga Mau–Tebidah dan Tebidah–Bunyau. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas serta produktivitas masyarakat pedalaman, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga.
Kepala Dinas PUPR Kalbar, Iskandar Zulkarnaen, menjelaskan bahwa penanganan ruas Nanga Mau–Tebidah akan dilakukan sepanjang 1,14 kilometer dengan prioritas pada titik-titik kerusakan berat.
“Kita fokuskan penanganan efektif sepanjang 1,14 kilometer pada segmen yang mengalami kerusakan paling parah,” ujarnya.
Saat ini, paket pekerjaan tersebut telah memasuki tahap persiapan tender fisik dengan pagu anggaran sebesar Rp12 miliar.
Penanganan serupa juga dilakukan pada ruas Tebidah–Bunyau dengan panjang yang sama, yakni 1,14 kilometer. Proyek ini pun telah masuk tahap persiapan tender fisik dengan nilai anggaran Rp12 miliar dan difokuskan pada kondisi jalan rusak berat.
Iskandar menyebutkan, pendekatan pembangunan menggunakan pola “fungsional tersebar”, yakni memperbaiki titik-titik kerusakan paling krusial terlebih dahulu agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat meski dilakukan secara bertahap.
“Kita memastikan pembangunan ini segera berprogres pada 2026. Walaupun bertahap, fokus pada titik kerusakan berat diharapkan langsung memberikan kemudahan akses bagi masyarakat,” jelasnya.
Langkah ini menegaskan komitmen Pemprov Kalbar dalam mendorong pemerataan pembangunan hingga ke pelosok daerah, sekaligus memperkuat konektivitas antar desa dan kecamatan di Kabupaten Sintang.
Dengan masuknya kedua proyek ke tahap persiapan tender, pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan ditargetkan segera dimulai pada tahun anggaran 2026, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.[SK]